2015/10/23

Artikel Pendidikan Ilmu Ekonomi di Indonesia

Bagaimana pendidikan Ilmu Ekonomi di Indonesia saat ini?

Akademisi UGM, Denny Puspa Purbasari menulis artikel menarik mengenai refleksi pendidikan Ilmu Ekonomi di Indonesia. Banyak hal menarik dari tulisan tersebut, tapi bagian yang paling menarik bagi saya adalah mengenai peran ganda ekonom di kampus, sebagai ilmuwan yang mengembangkan "ilmunya" dan, dalam istilah penulis di artikel tersebut, penasihat kebijakan atau pengambil kebijakan.

Tulisan tersebut sangat layak untuk dibaca baik yang sedang kuliah dan belajar Ilmu Ekonomi, yang sudah lulus program Ilmu Ekonomi, atau para dosen program Ilmu Ekonomi.

Tidak ada salahnya berharap kampus di Indonesia menghasilkan karya akademis Ilmu ekonomi yang berkualitas dan berkontribusi bagi perkembangan pemikiran Ilmu Ekonomi. Semoga.

2015/10/19

Kolumnis dan Kerangka Ekonomika


Saya senang ketika Chatib Basri (Akademisi UI, sekarang Senior Fellow Harvard Kennedy School) kembali menulis analisis ekonominya di media (setelah beberapa tahun menjadi pengambil kebijakan). Saya selalu mengikuti analisisnya di media sejak jaman kuliah semester awal dulu.  Mengapa saya menyukai tulisannya?

Pertama, karena gaya menulisnya keren. Kedua, menurut saya tulisan-tulisannya tajam dan memiliki perspektif menarik, namun tetap berlandaskan Ilmu Ekonomi. Kenapa saya gunakan ‘namun’ adalah karena saya merasa ‘jarang’ menemukan pengamat yang menulis di media yang menggunakan kerangka Ilmu Ekonomi. Bukan berarti tidak ada. Ada beberapa ekonom, tapi tidak banyak menurut saya. Tidak usah pusing dengan definisi 'banyak', Ya?

Dalam hal ini, tulisan yang ditulis Chatib Basri selalu mengajukan analisis masalah, kemudian mengajukan beberapa alternatif pilihan kebijakan dan mengajukan batasan-batasan apa saja. Bukankah ini esensi kita belajar Ilmu Ekonomi? Apa tujuannya, apa pilihan yang tersedia, given batasan-batasan yang ada (tujuan-pilihan-batasan). Terlebih lagi, pilihan kebijakan itu ada konsekuensinya pula (batasan juga?).

Bagaimana contoh kerangka yang saya maksud? Di tulisan barunya yang berjudul Kemandekan Ekonomi, ditulis:
 “Kita tak paham Tiongkok, padahal Tiongkok adalah pemain penting. Bank Dunia (2015) menunjukkan bahwa permintaan terbesar untuk metal dan energi-terutama batubara-berasal dari Tiongkok. Perlambatan ekonomi Tiongkok membawa dampak kepada harga energi yang rendah. Harga energi yang rendah akan mendorong nilai ekspor komoditas menurun. Implikasinya, ekspor Indonesia, pertumbuhan ekonomi, serta penerimaan pajak nonmigas dan migas terpukul secara signifikan. Dalam kondisi ini, ekspor terpukul, sementara ruang dari kebijakan fiskal untuk ekspansi menjadi amat terbatas. Di sinilah kesulitan kita. Di satu sisi, kondisi eksternal yang kita hadapi sulit; di sisi lain, ruang untuk ekspansi fiskal, apalagi ekspansi moneter, amat terbatas.”
 Kemudian,
 “Lalu apa yang bisa dilakukan? Kita tahu, saat ekonomi melambat, kita butuh kebijakan kontrasiklus. Pertanyaannya, dengan penerimaan pajak migas dan nonmigas yang terpukul tajam akibat pelambatan ekonomi dan penurunan harga komoditas, bagaimana ekspansi fiskal harus dilakukan? Saya teringat triple three (TTT) yang disebut Larry Summers tahun 2008. Ekspansi fiskal harus memenuhi TTT (targeted, temporary, timely).”
Meski tidak selalu setuju dengan isi tulisannya (misal rekomendasinya), kerangka Ilmu Ekonomi (tujuan-pilihan-batasan) seperti ini yang menurut saya lebih berguna. Ini mungkin sepele, tapi ini penting. Hal lain yang penting menurut saya adalah opportunity cost.

Semoga semakin banyak analis dan kolumnis yang menggunakan kerangka Ilmu Ekonomi meramaikan wacana kebijakan ekonomi di Indonesia (tentu saja sama berharapnya saya agar semakin banyak wacana Ilmu Ekonomi dari ekonom Indonesia di tataran teoretis melalui paper di jurnal ekonomi).

Silahkan baca tulisan lengkap Chatib Basri tersebut disini atau disini.

Opportunity Cost?

Bagi pengguna aplikasi Gojek pasti tahu kalau kita memberikan kode referral ke teman kita yang belum pernah menggunakan Gojek, maka kita dan teman itu sama-sama akan mendapatkan kredit sebesar Rp50.000. Tentu saja kita akan mendapatkannya ketika teman kita itu memesan Gojek untuk pertama kali. Kredit itu bisa pakai sebagai pengganti cash. Simpelnya kita dikasih oleh Gojek ‘duit elektronik’ sebesar Rp50.000 secara cuma-cuma yang hanya bisa dipakai untuk aplikasi Gojek. Tulisan ini bukan tentang aplikasi itu. Bukan.

Anggap kita punya kredit dari referral, dan kita dengan mudah dapat Rp50.000. Kalau kita menggunakan fitur Gofood dan membayarnya dengan kredit dari referral itu untuk memesan makanan di Gojek yang biaya delivery-nya sekitar Rp10.000, dan memilih makanannya adalah Burger seharga Rp25.000 (bersih sudah dengan pajak).

Jadi, uang yang benar kita keluarkan apakah Rp25.000 saja atau Rp35.000? Bukankah Rp10.000 itu kita dapat dengan cuma-cuma dari membagikan kode yang sekarang sisa Rp40.000? Bukankah kita tidak mengeluarkan uang cash untuk biaya Rp10.000 tersebut? Rp10.000 itu kan yang kita dapat secara cuma-cuma dari Gojek sebagai bagian dari Rp50.000 diatas dan dikembalikan lagi, bukan? Jadi itu artinya biaya memesan makanan Cuma Rp25.000 saja? 

Oh ya, kamu sudah belajar Ilmu Ekonomi dan membaca buku Economics Samuelson itu, jadi sudah pasti paham maksud dan kaitannya dengan judul tulisan ini.

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika ada yang bergulat dengan pertanyaan bahwa subsidi bukan uang keluar.

2015/10/11

Nash dan Ilmu Ekonomi

Esok hari (Senin, 12 Oktober 2015) Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi akan diumumkan pemenangnya. Kali ini saya akan menulis mengenai cerita dari seorang Nobel Laureate mengenai Nobel Laureate yang lain.

Beberapa waktu lalu saya mengunduh aplikasi Bookmate dan iseng-iseng mencari buku A Beautiful Mind karya Sylvia Nasar yang bercerita tentang seorang matematikawan besar pemenang Nobel Ekonomi tahun 1994, John Nash (saya sudah pernah membaca terjemahannya ketika kuliah dulu). Saya putuskan untuk membaca bagian awalnya saja di aplikasi tersebut.

Minggu lalu, saat waktu luang di kantor saya iseng membaca list publikasi Robert B. Myerson (pemenang Nobel Ekonomi 2007) dan menemukan salah satu artikelnya mengenai kontribusi John Nash dalam Ilmu Ekonomi (judul aslinya Nash Equilibrium and the History of Economic Theory). Setelah membacanya banyak hal menarik yang mungkin beberapa mahasiswa ekonomika perlu ketahui mengenai Nash dan sejarah perkembangan Ekonomika, tidak hanya sebatas Nash Equilibrium saja.

Nash, seorang yang belajar matematika, menulis disertasi yang hanya 23 halaman dan 3 referensi yang di kemudian hari akan berpengaruh besar dalam ilmu ekonomi. Myerson menyebut bahwa pemikiran Nash mengenai noncooperative games adalah salah satu kemajuan yang sangat besar dalam ilmu pengetahuan abad 20. Beberapa poin yang menarik bagi saya dalam artikel tersebut adalah bahwa Myerson menganggap Nash mengubah bagaimana Ekonomika bekerja yang sebelumnya didominasi oleh Price Theory (ekonomi mikro).

Untuk memahami bagaimana kontribusi Nash dalam ekonomika, Myerson membawa kita untuk mengenali Ekonomika sebelum masa Nash mulai dari Adam Smith. Ekonomika pada masa sebelum Nash dominan mempelajari bagaimana arus uang dan barang serta dinamikanya, meski istilah ekonomi pada awalnya digunakan oleh para filsuf Yunani untuk mempelajari institusi yang lebih luas. Myerson menganggap bahwa hal ini jelas karena arus uang dan barang adalah yang paling quantifiable sehingga logis jika dikembangkan sebuah cabang filosofi moral yang analitis dengan perangkat matematikanya yang fokus pada perihal aliran uang dan barang. Kemudian, Ekonomika memasuki babak baru lagi ketika revolusi marjinalis (mahasiswa ekonomika harusnya familiar dengan pemikiran Alfred Marshal dkk ini) mengembangkan secara analitis penawaran dan permintaan dengan kerangka rational-competitive decision making. Ekonom kemudian ‘berekspansi’ untuk mempelajari banyak hal dengan kerangka rasional tersebut. Namun, hal ini memerlukan kerangka yang lebih umum. Disinilah game theory berkembang.

Pada dasarnya benih awal Game Theory sudah dikembangkan sejak lama dalam social science sejak Machiavelli dan Hobbes. Namun, secara matematik Cournot dianggap pengembang pertamanya (mahasiswa ekonomi akan familiar dengan konsep oligopoli Cournot dimana perusahaan bersaing dengan menentukan tingkat output optimalnya dengan mempertimbangkan produksi perusahaan lain). Hasil analisis ini dianggap beberapa pihak mirip dengan Nash Equilibrium, sehingga Nash Equilibrium mesti disebut Cournot-Nash Equilibrium. Myerson tidak setuju mengenai hal ini, karena apa yang dikembangkan Cournot spesifik pada masalah oligopoli saja, berbeda dengan Nash yang mengembangkan secara umum. Model Cournot bukan merupakan model umum untuk mempelajari noncooperative games. Kemudian, dilanjutkan pengembangannya oleh Borel (ini saya juga baru dengan namanya). Lalu muncul satu nama yang terdengar tidak asing,  von Neumann dan Morgensten.

Myerson mengatakan bahwa Nash telah membawa Ekonomika ke tingkat yang lebih tinggi, dengan memperluas landasan ontologis ekonomika dan mengembangkan landasan epistemologisnya. Seperti yang telah disinggung dan dipelajari mahasiswa ekonomika, sebelum Nash Ekonomika fokus pada pengembangan mengenai ilmu aliran uang dan barang. Objek ilmu ekonomi tersebut dipelajari dengan menggunakan aljabar linear dan kalkulus (Matematika). Kontribusi Nash dan para pendahulunya menurut Myerson adalah menjadikan Ekonomika mengalami redefinisi apa yang ia pelajari. Ekonomika tidak lagi hanya mempelajari aliran uang dan barang, namun kini mempelajari bagaimana bagaimana masalah sosial yang lebih umum, dalam kerangka noncooperative games, kompetisi, dan kerja sama.  Myerson menyebutnya sebagai “the study of  rational competitive behavior in any institution of society”. Kini, sebagai mahasiswa ekonomika kita bisa menjelaskan banyak hal dengan menerapkan konsep ekonomi, termasuk kenapa ada jomblo dan apakah optimal keputusan saya untuk mengirim teks duluan atau tidak, dan hasilnya terhadap proses PDKT (bukan curhat). Jadi, mahasiswa ekonomika tidak lagi urusannya tentang uang (siapa juga yang bilang gini, eh). Oh ya, saya tidak tahu bagaimana Myerson menganggap kontribusi Gary S. Becker yang juga banyak mengaplikasikan konsep ekonomi ke masalah sosial lain. Nash, tentu dengan para pendahulunya, membawa landasan ontologis yang lebih luas dalam ekonomika.

Secara metode, Nash dan pendahulunya juga membawa kita pada metode berbeda dalam memperlakukan analisis ekonomi. Bahkan, pengembangan analisis keseimbangan umum oleh Debreu dan Arrow pada era selanjutnya dianggap terinspirasi dari pengembangan noncooperative games pula (jangan lupa Nash Equilibrium dan General Equilibrium, secara matematis keduanya dibuktikan dengan Fixed point theorem!). Sekali lagi, Nash menjadikan ekonomika menjadi lebih sulit karena harus belajar real analysis dan topology membawa Ekonomika ke tahap metodologi lebih maju. 

Jika di disiplin Fisika pada ahlinya sibuk mencari mengenai unifikasi teori, maka Myerson menyebut pemikiran Nash dan pendahulunya mengenai noncooperative games merupakan unifikasi dalam social science.

Oh ya, di makalah ini terdapat pula bagaimana Myerson menganggap mengapa asumsi individu rasional itu penting (buat bahan twitwar teman-teman). Silahkan, ini link papernya. Setelah membaca lagi, saya baru tahu ternyata itu dipublish di Journal of Economic Literature.

2015/05/29

Paket Coklat Bunga dan Statistik

Remi seorang penjual paket coklat dan bunga yang biasa dibeli para kekasih untuk  pasangannya. Pada bulan Januari 2015 Remi menjual sebanyak 500 paket hadiah dalam sebulan. Saat ini bulan Februari 2015, dimana kalangan remaja sedang ramai 'Valentine', penjualannya meningkat menjadi 1000 paket.
Akan tetapi, karena pada awal tahun 2015 perekonomian sedang lesu, tidak semua pemuda mampu membeli paket hadiah seperti itu. Mungkin hadiahnya diganti jadi coklat yang lebih murah. Pada tahun sebelumnya di bulan yang sama, Februari 2014, Remi mampu menjual 1200 paket hadiah.

Manakah pernyataan berikut yang tepat?

a. Usaha Remi maju pesat karena: penjualan toko Remi meningkat dibandingkan Januari 2015 karena penjualan meningkat terkait adanya event tertentu yang selalu terjadi di Februari, yaitu Hari Valentine.

b. Usaha Remi mundur karena: penjualan toko Remi menurun dibandingkan bulan yang sama Februari 2014 karena kondisi perekonomian yang sedang lesu sehingga menurunkan permintaan akan barang dagangannya.

Apakah usaha Remi pada Februari 2015 maju atau mundur?

---

Dalam hal membaca perkembangan data /indikator ekonomi (growth), adalah penting untuk mengetahui apakah ia yoy, qtq, atau mtm.

2015/05/04

Rakyat yang Iri dan Politisi yang Insecure - Model Yardstick Competition (Mengenang Skripsi)


Latar Belakang: Pertama, saya menyapa pembaca blog ini yang makin hari makin sedikit (gara-gara penulis blog ini yang makin malas menulis). Maka dari itu, saya kembali menulis lagi yang sekiranya saya saya cukup paham. Kali ini saya mau cerita tentang topik skripsi saya. Skripsi ini diolah datanya kira-kira setahun yang lalu di dataran tinggi daerah Semarang (Banyumanik: red) dan dipikirkan sudah setahun sebelum waktu itu. Haha.

Tujuan: Menjelaskan pada public secara sederhana skripsi saya itu mengenai apa (abaikan).

Metode: Tenang, tidak akan ada equation atau grafik di tulisan ini. Hanya narasi.

---

Skripsi saya masuk dalam ranah ekonomi apa? Publik? Mikro? Regional? Well, sekiranya ditanya seperti itu saya juga bingung, dahulu yang penting saya menulis saja. Saya ngakunya kalau skripsi ini masuk ranah political economics. Eits, jangan salah sangka, yang saya maksud political economics adalah yang lebih dekat pada public choice (teori pilihan publik). Apa itu? Singkatnya, ini adalah salah satu kajian yang membahas perilaku pemilih, politisi, birokrasi, proses politik dalam kerangka ekonomi mikro (suatu saat kalau sempat saya akan jelaskan panjang lebar). Kerangka ekonomi mikro seperti apa? Ya begitulah hehe... Makin panjang ceritanya. Anggap saja bahwa politisi itu rasional ingin utilitasnya optimum, begitu juga pemilih ingin kesejahteraannya paling optimum. (Lihat tulisan saya yang ini dan ini)

Ok. Kita mulai ceritanya. Pada tahun 1995, dua orang ahli ekonomi Timothy Besley dan Anne Case mempublikasikan paper mereka di jurnal ekonomika ternama, The American Economic Review (AER) dengan judul Vote-Seeking, Tax-Setting, and Yardstick Competition (sebenarnya sudah dipublikasi 3 tahun sebelumnya sebagai working paper di NBER). Model yang mereka tulis merupakan model utama yang saya acu dalam skripsi ini. Bagaimana modelnya?

Kisah Ibu Risma dan Ridwan Kamil
http://citraindonesia.com/wp-content/uploads/2014/02/walikota-surabaya-tri-rismaharini-foto.siagaco-700x250.jpg
Sumber Gambar: http://citraindonesia.com/rismaharini-ditelpon-sby-bu-risma-jangan-mundur/

Pembaca mesti pernah mendengar nama kedua orang walikota tersebut. Ya, mereka adalah pemimpin yang sering disiarkan oleh media mengenai kebijakan-kebijakannya berkaitan dengan pengembangan kota mereka. Banyak kebijakan mereka yang dianggap berhasil dan mampu membawa banyak penghargaan bagi kedua orang itu dan masing-masing kotanya.
Misal:

Beberapa cuitan (twit), status FB, dan obrolan bersama teman menyiratkan bahwa banyak warga di wilayah lain iri dan berangan-angan punya pemimpin seperti itu. Mereka juga ingin kota mereka juga dikelola sebagaimana kedua pemimpin tersebut mengelola Bandung dan Surabaya. Apa yang terjadi? Artinya, ada spillover informasi hasil dari siaran media dan obrolan orang dimana-mana. Orang-orang mulai sadar bahwa “Bupati keren itu kaya gitu”, “Walikota di daerah X hebat ya”, "kapan punya pemimpin kaya gitu yaaa".

Apa yang selanjutnya terjadi?

Model Yardstick Competition

Preferensi masyarakat tentu saja akan dipengaruhi oleh fenomena ini. Masyarakat bisa saja memiliki bahwa “Walikota seperti itu yang keren” “Gubernur itu harusnya begitu”. Hal ini akan disadari pertama kali oleh para politisi yang sedang menduduki jabatan, atau petahana (incumbent).

Petahana akan merasa insecure. Why? Ingat, jika preferensi masyarakat berubah seperti yang sudah dibahas, maka akan ada kemungkinan jika ada politisi penantang yang akan berkampanye seperti Walikota yang keren itu, maka kemungkinan ia bisa kalah (asumsinya dia ingin maju kembali pada periode kedua).

(Ingat: asumsi dalam model ini adalah pemilih rasional dan akan memilih kembali  seorang petahana berdasarkan kinerja pada periode berikutnya sebelumnya).

Hal yang berikutnya akan terjadi adalah petahana yang merasa bahwa para rakyat suka dengan kebijakan atau sosok di daerah lain, misalnya Ibu Risma, akan memilih untuk mengadopsi kebijakan serupa. Hal ini dilakukan karena akan meningkatkan probabilitas terpilihnya kembali pada periode keduanya.

Jadi, informasi mengenai kebijakan B yang mengalir melalui berbagai media akan mempengaruhi preferensi rakyat/pemilih. Pemilih di daerah, misalnya daerah A, yang menilai bahwa kebijakan di daerah B itu baik, akan secara relatif membandingkan bagaimana kebijakan di daerah A dengan daerah B. Kemudian evaluasi itu menjadi dasar ia akan memilih kembali atau tidak jika pemimpin di daerah A maju di periode kedua.

Petahana yang ingin maju kembali dan merasa insecure apakah terpilih kembali atau tidak, karena menyadari bagaimana rakyat menilai ia secara relatif, akan berperilaku oportunistik. Sebab ingin dipilih kembali, ia akan secara pragmatis mengadopsi saja kebijakan di daerah lain tersebut. Penjelasan sederhananya begitu.

Kemudian, hal yang terjadi adalah adanya fenomena kebijakan antar daerah yang serupa yang berdekatan atau terkait. Misalnya daerah X mengeluarkan kebijakan untuk Kartu Sehat Gratis (KSG), daerah Y akan memiliki kebijakan serupa dengan nama Kartu Sehat Tidak Bayar (KSTB). Misalnya daerah Q memperbaiki jalan kota dengan memperbaiki jalannya, maka daerah R akan melakukan hal serupa. (Mengapa yang berdekatan? Dalam model ini diasumsikan bahwa yang lebih dekat informasinya lebih mudah mengalir, sehingga probabilitasnya lebih besar).

Prediksi dari model ini adalah hadirnya seorang pemimpin yang bagus dalam hal kebijakannya di suatu daerah akan mendorong pemimpin di daerah lain untuk bagus pula dalam kebijakannya atau ia akan tersingkir dari panggung politik di periode kedua.

Bagaimana cara membuktikan hal tersebut?

Secara intuitif, sederhana saja. Kita dapat melihat bagaimana kebijakan dinamika antar waktu di beberapa daerah yang saling berdekatan. Misalnya ilustrasi bahwa kebijakan di daerah Q mengenai perbaikan jalan diikuti oleh daerah R, maka kita bisa lihat bagaimana kecenderungannya di pola anggaran atau misalnya total jalan yang dibangun. Jika memang benar adanya, maka peningkatan alokasi anggaran untuk infrastruktur jalan di daerah Q diikuti dengan peningkatan alokasi anggaran yang serupa di daerah R. Bagaimana teknis ekonometrikanya akan saya bahas kapan-kapan saja, kata kuncinya adalah: spatial econometrics, spatial lag model, spatial autoregressive. Silahkan digoogling. Hehehe… (Besley dan Case menggunakan kebijakan pajak daerah untuk melihat bagaimana model yardstick bekerja di Amerika Serikat).

Tunggu dulu. Ekonometrika spatial tidak bisa menjawab satu masalah yang diajukan dosen pembimbing sewaktu saya skripsi dahulu. Inti dari masalah yang ia ajukan begini. (Oh iya, waktu itu saya sudah membawa output Stata yang berisi hasil regresi dan mengajukannya, dan kemudian muncul masalah yang membuat saya susah tidur dan tetap bisa makan).

Bagaimana kita memisahkan pengaruh kebijakan yang benar-benar dilakukan oleh petahana sebagai reaksi atas perubahan preferensi pemilih dengan kebijakan yang kebetulan mirip atau yang ada campur tangan dari pusat? Kebijakan dari pusat misalnya minimum anggaran pendidikan 20 persen untuk APBN maupun APBD, otomatis akan meningkatkan secara simultan anggaran pendidikan di berbagai daerah. Misalnya di daerah tenggara setiap awal tahun ada banjir sehingga pemerintah-pemerintah di wilayah harus mengalokasikan sebagian anggaran untuk banjir tersebut. Hal ini bisa menyebabkan estimasi model menjadi bias, seolah-olah terjadi fenomena yardstick competition padahal karena sebab lain, sehingga harus ada spesifikasi model yang mendekati dengan tujuan penelitian. Tujuannya adalah mengestimasi perubahan alokasi belanja (atau pajak) yang terkait dengan proses politik yardstick ini (proses politik iri-insecure. Petahana yang ingin terpilih kembali dan pemilih yang iri akan kebijakan daerah lain).

Bagaimana saya melakukannya akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya saja terkait masalah teknisnya. Hehe. Awal-awal ini diskusi soal topiknya saja dulu.

- (Bagi yang mau baca skripsi saya bisa datang ke perpus FEB Undip lantai 2 atau di prosiding konferensi ISEI XVII Ternate; promosi detected)

- Ide Yardstick Competition ini dikembangkan di bidang Industrial Organization untuk membahas dinamika penentuan harga dan kelayakannya (CMIIW) dan dibahas pertama kali di bidang ekonomi publik-ekonomi politik oleh Pierre Salmon pada 1987, Besley dan Case adalah pihak yang membuat model formalnya dengan Game Theory. Skripsi saya juga membahas beberapa skenario game yang berbeda dengan Besley dan Case (1995). 

- Tambahan: model Yardstick Competition ini bisa dianggap sebagai model alternatif dari model desentralisasi Tiebout (1956) ketika asumsi-asumsi dalam model vote with their feet tidak applicable, misalnya mobilitas penduduk.


2014/03/22

Tes Mathjax (menulis persamaan di blog)

Postingan ini cuma untuk mengetes apakah mathjax bisa dipakai di blog ini untuk keperluan menulis persamaan. Dan hasilnya sebagai berikut.

 $y_{i}=\beta_{1}x_{i}+\epsilon_{i}
$

itu dihasilkan dari saya menulis dollary_{i}=\beta_{1}x_{i}+\epsilon_{i}dollar ; dollarnya diganti $.

2014/03/20

Jawaban Ujian Ekonometrika Lanjutan 2013 - 2A




"Ini jawaban versi saya, belum tentu benar.


    
Untuk menghasilkan estimasi yang BLUE (best linear unbiased estimator), maka asumsi-asumsi melandasi parameternya harus dipenuhi. Salah satu asumsi yang harus dipenuhi adalah mengenai variabel independen yang fixed atau nilai X independen terhadap nilai gangguan u
       Nilai X yang fixed pada sampling berulang merupakan konsekuensi dari konsep regresi yang mengandalkan pada nilai rata-rata kondisional atau conditional mean (E(Y|X). Garis regresi pada dasarnya merupakan gabungan dari nilai rata-rata variabel acak Y pada nilai X yang fixed. Secara intuitif, alasan mengapa nilai X seharusnya fixed pada sampling berulang adalah sebagai berikut.
       Kita mengetahui bahwa nilai parameter OLS menyatakan bahwa bervariasinya nilai Y pada setiap nilai X adalah akibat adanya gangguan u. Sehingga, ketika nilai gangguan u berubah, hal tersebut akan mengubah juga nilai Y. Maka, parameter regresi tidak semestinya menjelaskan perubahan Y tersebut akibat X, karena perubahan disebabkan gangguan u. Namun karena kita tidak mengetahui nilai u (hanya distribusi probabilitasnya saja), ketika X tidak mengikuti nilai fixed, atau stokastik dengan distribusi probabilitas tertentu, maka peningkatan u dapat saja juga diikuti peningkatan X.. Hal tersebut tidak akan terjadi selama cov(Xi,ui)=0. Maka, parameter regresi akan menjelaskan perubahan nilai Y disebabkan variasi pada nilai u, sekaligus nilai X jika gangguan u dan nilai X tidak independen. Sehingga, kita dapat menetapkan nilai X berapa saja tanpa memengaruhi properti dari gangguan u.
       Dalam ilmu semacam ekonomika, sulit untuk melakukan eksperimen yang bisa membuat nilai X tersebut fixed, kemudian untuk mencari beberapa nilai Y pada satu X. Misalnya untuk melihat pengaruh investasi terhadap peningkatan output. Bukankah data investasi bukan fixed pada sampling berulang, namun sebuah variabel acak? Hal tersebut banyak berlaku pada ilmu ekonomi yang data-datanya merupakan hasil observasi, berbeda dengan data eksperimen yang mana nilai X dapat dikontrol. Seperti yang telah disebutkan bahwa variabel X boleh saja tidak fixed pada repeated sampling (jadi ia stokastik berdasarkan distribusi probabilitas tertentu) asalkan ia memenuhi asumsi bahwa ia independen terhadap nilai gangguan u, sehingga muncul asumsi bahwa  cov(Xi,ui)=0
       Secara matematis, nilai variabel X yang independen terhadap gangguan u dapat dijelaskan pada sebagai berikut. Parameter BLUE jika nilai parameter estimasi sama dengan parameter population regression function-nya (PRF)



Dengan menuliskan kembali persamaan parameternya



Persamaan regresi dituliskan kembali dan disubtitusikan pada persamaan


Maka diperoleh









Berdasarkan persamaan tersebut, untuk memperoleh nilai parameter yang tidak bias maka, nilai X haruslah non-stokastik. Nilai X yang non-stokastik akan berimplikasi pada nilai harapan pada bagian kedua persamaan di sebelah kanan sama dengan nol, sehingga nilai parameter tidak bias.  Namun, jika X adalah suatu variabel acak yang nilainya berdasarkan distribusi probabilitas tertentu, maka ada kemungkinan bahwa nilai X dan gangguan u tidak independen, sehingga nilai harapan dari X dan u tidak sama dengan nol.
Kasus pada model simultan yang mana nilai salah satu variabel independen yang pada persamaan lain merupakan variabel endogen, maka variabel indepeden tersebut memiliki sifat variabel endogen, yaitu stokastik. Sifat variabel endogen yang melekat pada dirinya, menyebabkan masalah ketika ia berada di barisan variabel independen karena ada kemungkinan cov(Xi,ui)≠0.
 
Update: persamaan-persamaan pertama saya dengan menggunakan LaTeX hehe, yang penasaran bisa cek link ini


2014/03/17

Daoed Joesoef tentang Pendidikan (1)

Berikut posting kutipan dari buku memoar Daoed Joesoef pada bagian "Bung Hatta dan Aku" sewaktu membahas masalah pendidikan.
Banyak pelajar  dan mahasiswa-atas dorongan orang tua atau kesadaran bahwa hidup ini finite atau sudah lama hidup dalam kekurangan dan harus membantu adik-adik-ingin memfokuskan pendidikan pada program yg berkaitan dgn employment dan di perguruan tinggi menjauhi subyek perkuliahan yg bersifat akademis. Sebaiknya jangan dihalang-halangi kecenderungan manusiawi ini bahkan disediakan jalur pendidikan yg diperlukan untuk itu. Sebab sering terjadi, dengan berlanjutnya usia dan kesadaran belajar seumur hidup, ada saja lulusan S1 yang semakin berminat pada the world of ideas dan karenanya mulai menghargai cara berpikir akademis sebagai kunci efektif memasuki "dunia" tersebut, bahkan tertarik pada pikiran transdisipliner, yaitu pikiran yang tidak berhenti begitu saja di perbatasan setiap disiplin ilmiah, tetapi terus mengarah ke gejala multidimensional dan bukan ke disiplin yang mencomot satu dimensi saja dalam gejala itu. Atas kesadarannya sendiri lulusan S1 ini berusaha mendalami the nature of truth, sebagaimana yang kita cari daam ilmu pengetahuan dan dalam kehidupan sosial, tidak hanya melalui penalran satu disiplin ilmiah, tetapi melalui penyatuan dan interaksi berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan menelusuri pengaruh dari usaha pencarian kebenaran empiris ini, the habit of empirical truth, atas perilaku manusia. 
Kemudian, 

Biasanya orang-orang seperti inilah yang kelak semakin melibatkan diri dalam komunitas mereka dan semakin tertarik pada current public affairs. Bila demikian kegiatan-kegiatan mereka sangat berperan dalam penciptaan dan pelestarian berbagai aspek kegiatan sosial-politik, yang memungkinkan para warga bekerja sama lebih efektif untuk mencapai shared objective (gotong royong, paguyuban budaya, olahraga, civil society, dan lain-lain). Jelas bahwa proses pembelajaran masyarakat ke arah ini akan menjadi lebih efektif bila, di samping jalur persekolahan, penyediaan tangga kemajuan ini melibatkan pula perpustakaan umum, museum, organisasi-organisasi artistik, pemagangan di komunitas bisnis-industrial;, pendidikan alternatif, dan multimedia.
(Joesoef, Daoed. 2006. Dia dan Aku. Jakarta: Penerbit Kompas; hal. 265-266)

Jika ada penulisan yang salah mohon dikoreksi, karena saya ketik ulang dari bukunya.

2014/01/22

Apakah Impor Pangan adalah Hal yang Baik? Sebuah Cerita Anak Kos dan Musim Hujan

Beberapa minggu terakhir, di Semarang hampir setiap hari hujan. Kadang hujan deras kadang tidak. Tapi, setiap hari hujan. Sebagai mahasiswa yang sudah tidak ada aktivitas perkuliahan di kampus, saya senang saja. Toh, saya bisa fokus mengerjakan tugas akhir di kamar. Namun ada masalah lain.

Biasanya kalau hujan sejak saya bangun pagi, akan bertahan sampai siang. Kadang-kadang sampai sore dan malam. Ya, walaupun tidak selalu deras dan masih bisa ditembus.

Masalahnya muncul karena saya tidak memiliki kompor dan persediaan makanan. Jadi, ketika hujan saya terpaksa harus pergi ke warung makan hujan-hujanan hanya untuk sebuah nasi bungkus. Maka, biaya yang saya keluarkan untuk membeli sebungkus nasi menjadi lebih tinggi daripada di hari cerah. Hal ini belum lagi memperhitungkan resiko sakit karena kehujanan dan masuk angin.

Masalah Impor Pangan

Masalah di atas merupakan ilustrasi bagaimana bahayanya jika suatu negara terus-terusan mengimpor bahan pangan. Jika saya adalah penduduk negara kos-kosan, dan warung makan adalah negara lain, maka sejatinya kami berdua sedang melakukan perdagangan (internasional).

Apa yang terjadi jika saya tidak memiliki kompor dan tidak memiliki persediaan bahan makanan misalnya mie instant di rumah? Seperti halnya negara, ketika terjadi hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, misalnya cuaca, perang, dan lain hal, maka stok dan kompor tadi berguna untuk menyediakan agar kita tetap makan. Sebuah negara juga demikian, ia harus memiliki pabrik, lahan, petani yang berproduksi dalam hal pangan.

Dalam ilmu mikroekonomi, kita mengenal penyesuaian yang membutuhkan waktu. Seperti itu pula dalam kasus anak kos-kosan tadi, apakah mungkin mengubah fungsi laptop menjadi kompor? Ada waktu penyesuaian, perlu menjual laptopnya dulu, baru beli kompor.

Walaupun ada teori yang mengatakan bahwa dengan berdagang kita menjadi sejahtera, kadang-kadang teori itu perlu kita pikirkan sampai sedalam-dalamnya dan kita uji kebenarannya.

Apakah saya tetap bisa membeli makan di warung sewaktu hujan? Iya, tetap bisa, tapi bisa jadi tidak efisien. Biaya yang saya keluarkan harus lebih banyak.

Terakhir, tulisan ini tidak bermaksud mengajak mahasiwa kos-kosan untuk memasak sendiri, karena bisa jadi juga tidak efisien (ingat bab Gain from trade). Akan tetapi, hanya merenungkan masalah serius karena saya kelaparan, eh maaf, maksudnya merenungkan bahwa punya kompor dan persediaan makanan di rumah penting juga.


Catatan:
1. Setelah hampir selesai menulis postingan ini, saya jadi teringat sidang WTO beberapa waktu kemarin dan bagaimana India memperjuangkan keinginannnya untuk menyetok bahan pangan.
2. Walaupun kompor dan stok diperlukan, jangan lupa aspek opportunity cost dari hal itu ketika tidak dipakai. Ya, mie instant mungkin bisa diperbaharui beberapa bulan sekali. Kalau masalah kompor ya mungkin bisa dipakai untuk hiasan, atau mungkin meja laptop.
3. Tulisan ini dibuat ketika hujan deras dan saya belum sarapan.

2014/01/16

Teori Ekonomi dan Game Theory Sholat Jumat

Saya bingung ingin memberi judulnya apa, yasudahlah saya beri saja judul "Teori Ekonomi dan Game Theory Sholat Jumat" biar kelihatan keren, gitu. Perhatian, tulisan ini tidak akan membahas kenapa saya mau sholat jumat, tapi membahas bagaimana kita (saya saja deh) memilih tempat duduk dan keputusan pergi ke masjid.

Hari jumat, kondisi hujan. Saya segera mandi dan bersiap-siap ke masjid untuk sholat jumat. Saat berjalan ke masjid, saya terpikir mengenai insentif dalam ilmu ekonomi dan teringat kasus kalau kita para lelaki datang ke masjid untuk sholat jumat.

Ketika masuk masjid dan memilih tempat duduk, maka anggaplah pilihan tempat duduk kita itu acak. Kita bisa duduk di mana saja saat mendengarkan khutbah jumat.

Pertanyaannya bisakah kita memodelkan pilihan tempat duduk tersebut? Sebelum membahas model, ada baiknya meninjau masalah tersebut dari sudut pandang ilmu ekonomi.

Insentif dan Norma

Secara sederhana, saya mengartikan ilmu ekonomi adalah mengenai pilihan-pilihan dan insentif. Saya kira, kasus memilih tempat duduk waktu mendengarkan khutbah ini adalah contoh yang baik untuk menjelaskan ilmu ekonomi dan hubungannya dengan ilmu sosial lain.

Pertanyaan: mengapa beberapa orang (sebagian besar malah, hmm, atau mungkin saya saja?) memilih duduk tidak pada di barisan yang di depan dan masih kosong? Sampai kita sering mendengar pada acara-acara lain mengenai permintaan untuk mengisi kursi atau tempat yang kosong di depan terlebih dahulu.

Ekonom dan mahasiswa ekonomika akan menjawab orang-orang tidak memilih tempat duduk di depan karena tidak ada insentifnya. Kenapa harus duduk di depan, toh duduk di belakang juga sama saja. Kecuali, duduk di barisan paling depan ada insentifnya, misalnya dijanjikan akan mendapatkan sesuatu, misalnya pahala yang lebih besar daripada yang duduk di barisan belakangnya.

Sampai pada titik ini, mahasiswa ekonomika akan memodelkan perilaku duduk jamaah dengan mekanisme insentif. Orang yang tahu bahwa duduk di depan pahalanya lebih besar, maka akan memilih duduk di depan. Ketika insentif jelas dan diketahui, maka masalah masyarakat terpecahkan oleh perilaku setiap individu, yaitu pilihan. Hal inilah yang dibahas dalam ilmu ekonomi.

Sekarang bayangkan ketika orang tahu atau tidak tahu ada pahala untuk duduk di baris yang lebih dekat dengan imam. Namun, misalkan, ada semacam norma yang mengatur bahwa yang sholat di baris paling depan adalah orang-orang tertentu saja, misal orang yang dianggap tua dan paling alim. Nah, disini norma-norma membentuk struktur sosial yang bekerja 'berlawanan' dengan mekanisme insentif dan pilihan individu. Pilihan individu jadi terbatasi (ini bisa menjadi klaim masalah sosiologi dalam masyarakat, bisa jadi tetap masalah ilmu ekonomi mengenai 'batasan').

Apa konsekuensi adanya hal-hal semacam norma ini bagi outcome? Norma ini mendistorsi hasil agregat pilihan individu dengan insentif. Ketika ada tempat yang kosong waktu di depan (karena adanya norma semacam itu), mungkin akan ada orang yang tidak mendapat tempat duduk di dalam masjid. Padahal ada tempat kosong di depan. Ini bisa dianggap sebagai, dalam bahasa ilmu ekonomi, inefisiensi. 

El Farol Bar Problem

Selain hal-hal di atas, ketika saya sampai di masjid saya menemukan masjid tidak penuh sebagaimana jumat-jumat lain. Biasanya saya menemukan masjid akan penuh dan saya terpaksa sholat di luar (ketahuan suka menunda berangkat hingga qamat). Tapi, hari itu masjid tidak seperti biasanya, karena tidak banyak yang berangkat. Bagaimana memodelkan fenomena kedua ini?

Begini.

Ketika selesai mandi, saya melihat keluar jendela cuaca lagi hujan dan saya berpikir untuk tidak berangkat ke masjid, sholat di rumah saja lah (padahal sholat jumat dan jarak rumah ke masjid cuma 200 meter). Karena hujan dan sudah agak telat, saya berpikir bahwa kalau berangkat pun saya akan tidak akan mendapatkan tempat di dalam (seperti jumat-jumat yang lalu). Konsekuensinya, saya akan sholat di halaman masjid di bawah rintikan air hujan. Maka atas dasar perhitungan rasional tersebut, saya seharusnya tidak berangkat.

Tapi, saya tetap berangkat ke masjid. Sesampainya di masjid, saya menemukan masjid tidak seramai biasanya. Saya heran. Hal tersebut membuat saya berpikir, apa yang terjadi. Maka saya berhipotesis bahwa, karena semua orang berpikir atas dasar perhitungan rasional seperti yang saya lakukan pada paragraf sebelumnya, maka masjid akan tidak seramai semestinya. Semua orang berpikir mereka akan lebih baik jika tidak pergi karena jika pergi dan masjid ramai, mereka ada kemungkinan tidak mendapatkan tempat di dalam masjid, dan duduk di luar sementara sedang hujan.

Saya pun duduk mendengarkan khutbah, dan berpikir, kasus ini mirip dengan El Farol Bar Problem, yang dikembangkan oleh W. Brian Arthur. Sederhananya, el farol bar problem menjelaskan bahwa seseorang akan mendapatkan utilitas yang lebih tinggi jika pergi ke tempat, misalnya cafe X jika orang-orang yang memilih pergi ke cafe tersebut kurang dari jumlah tertentu. Jika orang yang pergi ke cafe X tersebut melebihi jumlah tertentu, maka utilitas yang diperoleh akan lebih besar jika si dia tidak pergi ke cafe X dan tetap tinggal di rumah.

El Farol bar problem ini yang kemudian dikembangkan menjadi minority games. Kemudian ada pula konsep yang berkaitan, yaitu inductive reasoning. Saya mengetahui el farol problem dan minority games ini dari membaca working paper salah satu peneliti di Bandung FE Institute mengenai intervensi bank sentral terhadap kurs, rejim kurs, dan perilaku agen-agen ekonomi  di pasar valas.

Nah, begitulah hasil merenung khutbah di waktu khutbah jumat minggu ini. Saya akui, sholat saya tidak khusyuk.

2014/01/13

Data APBD 1994-2013

Mahasiswa fakultas ekonomika biasanya berkepentingan dengan data-data, termasuk data APBD. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) menyediakan akses online data APBD seluruh Indonesia dari tahun 1994-2013. Data tersebut bisa diakses disini.
Kabar baiknya, data tersebut berekstensi .xls, sehingga anda bisa dengan mudah mengolahnya menggunakan excel anda.

Ekuilibrium dalam Ekonometrika

Pertama, postingan ini tidak bermaksud menjelaskan nama blog ini (walaupun ada hubungannya sedikit).

Kedua, tulisan ini juga tidak bermaksud menjelaskan panjang lebar mengenai ekuilibrium dan kointegrasi. Tulisan ini hanya menampilkan kutipan dari sebuah buku ekonometrika.

Ketiga, postingan ini sama dengan postingan sebelumnya, terinspirasi oleh bagian awal dari sebuah buku ekonometrika.


Ketika kita belajar analisis time-series di ekonometrika, kita akan bertemu dengan sebuah konsep yang disebut Kointegrasi, cointegration, atau co-integration. Konsep tersebut membicarakan mengenai equilibrium pada konsep time-series. (Saya pernah membaca penjelasan kointegrasi dari sebuah blog keren ini).

Mungkin kita (mahasiswa ekonomika) akan bertanya-tanya, apakah konsep ekuilibrium yang dibicarakan dalam kointegrasi sama dengan ekuilibrium dalam pasar yang sudah kita pelajari di semester 1 kuliah fakultas ekonomika. Apakah sama atau ada hal lain yang perlu dielaborasi?

Nah, kebetulan saya menemukan penjelasan menarik di sebuah buku ekonometrika berjudul "Co-Integration, Error-Correction, and The Econometric Analysis of Non-Stationary Data" karangan Baneerje, dkk. Di bagian Introduction buku tersebut, penulis mengelaborasi bagaimana konsep ekuilibrium dalam econometrics. Supaya tidak ada kesalahpahaman, saya tampilkan saja kutipan langsung dari bukunya.

Buku tersebut awalnya membahas konsep ekuilibrium secara umum, yakni:
"An equilibrium state is defined as one in which there is no inherent tendency to change,... The phrase 'long-run equilibrium' is also used to denote the equilibrium relationship to which a system converge over time,... a long run equilibrium relationship entails a systematic co-movement among economic variables which an economic system exemplifies precisely in the long run" (Banerjee, et al, 1993)
Kemudian, terkait pertanyaan apakah ekuilibrium dalam ekonometrika dan teori ekonomi adalah hal yang sama
"Our definition of equilibrium is therefore not that in which 'equilibrium; refers to clearing in a particular market and where 'disequilibrium' means that supply is not equal to demand,....There is of course a connection between the meaning of 'equilibrium' used in econometrics by Quandt and others, and that used here, which is more common in time-series analysis." (Banerjee, et al, 1993)
Dan, apa itu ekuilibrium dalam ekonometrika dijelaskan secara jelas oleh kalimat berikut,


Begitulah. Mengenai penjelasannya  lebih jauh mengenai hal tersebut, silahkan baca bukunya yang bisa dilihat di referensi.

Referensi

Anindya Banerjee, Juan J. Dolado, John W. Galbraith, and David Hendry. 1992. Co-integration, Error Correction, and the Econometric Analysis of Non-Stationary Data. Oxford University Press.